Balada Detik-Detik Akhir Registrasi Simcard di Mata Konter dan Pengguna

Belakangan ini, baik dunia maya atau dunia nyata ramai mempergunjingkan membahas peraturan baru pemerintah, yaitu pengguna kartu seluler di Indonesia wajib mendaftarkan nomornya menggunakan nomor NIK dan nomor Kartu Keluarga (KK). Pro Kontra pasti ada, tapi pada akhirnya manut jua.

Drama registrasi simcard mulai mencapai klimaks menjelang detik-detik akhir, dimana para pengguna kesulitan mendaftarkan nomornya, mereka bingung dengan aturan yang berbelit-belit. Dampaknya? Kabeh mumet. Konter mumet, pengguna mumet, dan (saya yakin) CS di setiap galeri provider ikutan mumet.

Apa yang bikin mumet?

Di mata para bakul pulsa (dalam hal ini pemilik konter dan pegawainya), konter mereka jadi super duper ramai. Bukan untuk borong isi konter, tapi sibuk minta tolong registrasi. Iya kalau sekali registrasi berhasil, lha kalau system lagi error ya yudadababay. Ujungnya “silahkan ke galeri providernya”, kemudian galeri pun dibanjiri pengguna yang “Mbludak” kayak pasar malam. Selain itu, pemasukan dari perdana internet otomatis menurun, padahal pemasukan terbesar mereka ya dari sana. Jadi, cukup bikin rugi, karena meski ada voucher paket data, orang masih memilih perdana.  Tapi tenang aja, seiring berjalannya waktu, mudah-mudahan pendapatan mereka kembali naik, khususnya dari penjualan voucher paket data. Harap tenang, ini hanya ujian!

Kurangnya sosialisasi juga bikin pengguna bingung, khususnya para orang tua (orang-orang yang sudah berumur), kalau bukan anaknya yang ngasih tau dan ndaftarin, ya nomor mereka ikut terblokir. Pengguna yang baru tau ada aturan tersebut di detik-detik akhir,kemudian mendaftarkan nomornya tapi zonk, beberapa kali mencoba tapigagal. Mau nggak mau harus merelakan sebagian waktu mereka untuk datang ke konter atau gerai provider biar nomor tidak keblokir. Pengguna yang biasa beli kartu sekali buang, sekarang harus beralih ke voucher isi ulang paket data atau beli langsung melalui USSD, yang harganya lebih mahal daripada beli perdana sekali buang.

Sebenarnya masih bisa kok pakai kartu sekali buang, tapi harus unreg NIK di nomor lama, lalu registrasi lagi di nomor baru. Duh cyiiiin kebayang ya ribetnya. Bayangkaaan, kalau tiap bulan ganti kartu, tiap bulan juga kita bermain bersama unreg reg. Kecuali bener-bener niat ya gonta ganti kartu. Cocok deh kalau kamu tipe orang kayak gitu. Nggak ada yang salah kok, senyamannya aja.

Kalau saya pribadi sebagai pengguna, dari awal pengumuman mulai ikut mendaftarkan 2 kartu sim yang saya punya. Soalnya itu nomor “keramat” alias nomor pribadi plus nomor bakulan, jadi kalau keblokir rasanya nggak rela. Meski katanya hoax, saya mah antisipasi aja. Kecuali nomor sekali buang untuk internetan memang nggak saya daftarkan. Menjelang detik-detik akhir registrasi, niatnya mau didaftarkan tapi nasib berkata lain, berkali-kali registrasi tulisannya NIK tidak terdaftar silahkan hubungi Disdukcapil, lha NIK dan KK yang saya daftarkan itu sama lho kayak kedua nomor sebelumnya, kok iso-isone tidak terdaftar. Duhdeeeek males banget kan cuma gitu doang harus ke Disdukcapil, dikata mau bikin akta kelahiran cyiin. Berhubung saya orangnya pantang menyerah saya coba terus deh. Dan setelah 5x gagal, saya pun dapat piring cantik diharuskan mendaftarkan di galeri terdekat dan akhirnya ikut keblokir. Males ribet, akhirnya salah satu nomor lama saya pakai aja untuk internetan. Nggak apa-apa deh beli voucher daripada ribet-ribet. Lagian punya nomer banyak juga bingung ngasih makannya.

Memang niatnya (mungkin) baik, biar nggak ada tipu-tipu yang lebih ekstrim dari “mama minta pulsa”, karena kurang sosialisasi aja jadi heboh. Beberapa waktu kemudian pasti surut dan kita terbiasa beli voucher atau beli dari USSD seperti dulu sebelum gonta ganti perdana jadi “tren”.

Ya kita berdoa saja semoga dengan adanya aturan ini Indonesia bebas dari penipu-penipu dan tidak ada penyalahgunaan data. Agak khawatir sih, NIK dan no KK kan isinya data kita ya. Ah sudahlah enjoy-in aja, lur.

Leave a Reply