Bungkus Gorengan Kontroversial

Di suatu siang yang panas, sembari mengantri mie ayam, terbesitlah hasrat untuk menikmati gorengan yang melambai dari balik gerobak disebrang sana. Sayapun memutuskan membeli beberapa jenis gorengan seperti tahu dan tempe gembus sebagai pelengkap mie ayam. Tak ada yang aneh dari gorengan tersebut, semua tampak nikmat, gurih-gurih nyoy, dan masih hangat. Tetapi ada satu hal yang menyita perhatian saya, yaitu bungkus gorengan.

Bungkus gorengan tersebut adalah fotokopi ijazah SMP seorang warga kabupaten Magelang tahun ajaran 2011/2012. Entah kenapa rasanya hati saya langsung cenat-cenut tidak karuan saat memandang foto seorang remaja yang masih kinyis-kinyis terpampang di bungkusan tersebut, meskipun hasrat menikmati tempe gembus masih memuncak. Padahal, bukan kali pertama saya melihat hal ini. Ya, memang hanya selembar kertas fotokopi yang harganya mungkin tidak lebih dari 200 rupiah, tetapi kalau dibayangkan, untuk mendapat ijazah aslinya saja butuh uang berjuta-juta dan waktu bertahun-tahun, bukan?. Terus, piye rasane nek kopian ijazahmu dadi bungkus gorengan?. Tahu sendiri kan di ijazah tersebut ada namamu, nama orangtua, nama sekolah, tanggal lahir, dan beberapa data penting lain. Pantaskah?.

Hal ini cukup membuat saya parno. Tak terbayang seandainya fotokopi ijazah yang saya gunakan untuk melamar kerja atau lainnya yang menurut pihak bersangkutan sudah tidak terpakai, lalu dijual ke pengepul, dan tiba-tiba saya atau oranglain melihatnya menjadi pembungkus gorengan, bah….. sakitnya tuh disini *tunjuk dada kiri*.

“Eh Ki, tadi aku lihat kamu lho!”

“Oh ya? dimana cuy?”

“Di bungkus gorengan”

“Lha kok iso?”

“Lha wong bungkus gorengannya fotokopi ijazah kamu kok”

Jleb jleb jleb…… ngga elit banget gitu lhoooo. Sakiiiit..

Apalagi untuk ababil yang doyan ngece nama orangtua. Ketahuan deh nama orangtuanya siapa. Beuh..

Kok ya rasanya kurang pantas jika fotokopian berkas penting menjadi bungkus gorengan, kacang rebus, dan bungkus-bungkus apapun.

Secuil saran untuk perusahaan, sekolah, atau perorangan yang menemukan tumpukan fotokopian berkas penting, alangkah baiknya jika berkas-berkas yang sudah tidak terpakai tersebut dibakar saja daripada dijual ke pengepul. Kalau mau dijual, jual saja tumpukan revisi skripsi yang sudah tidak terpakai toh lebih bermanfaat (bisa makan gorengan sambil belajar flowchart misalnya). Atau dijadikan bubur kertas dan dibuat kerajinan. Sama-sama menghasilkan uang dengan cara yang lebih kreatif kan?.

Sudahlah, ini sekedar celotehan disaat selo saja. Terlepas dari kontroversial atau bukan biarlah kacamata masing-masing yang menilainya, saya mau berburu mie ayam saja. Ojo serius-serius banget toh lek.

Leave a Reply