Catatan Perjalanan Anasera (Bagian 1)

Teruntuk kamu, anakku, Anasera Rezfani Putri

Pertama kali tau ada kamu di rahim Ibu, rasanya bahagia banget. Kamu jadi kado spesial di hari ulang tahun Bapak dan juga ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Hari-hari Ibu lewati dengan bahagia, nggak sabar pengen tau perkembangan kamu tiap bulannya.

Trimester pertama, full 3 bulan Ibu teler banget, tapi Ibu nikmati karena itu semua demi kamu. Bapak sabar banget ngadepin Ibu, perhatiannya full, mau bantu Ibu ngerjain pekerjaan rumah, disaat Ibu nggak sanggup masak, dengan sigap Bapak beliin makanan biar kita nggak kelaparan. Bapak juga sabar ngadepin Ibu yang jadi super manja, maunya nemploook terus sama Bapak. Nggak mau jauh-jauh dari Bapak dan maunya ngintilin Bapak terus. Sampe Bapak bingung, “Ibu ki ngopo nemplok terus?”. hehehe

Masuk bulan ke-4, mulai ada gerakan halus di perut Ibu, kadang seperti kedutan, kadang seperti ada kupu-kupu, Ibu yakin itu kamu yang mulai gerak dan bernyawa. Semakin hari kamu semakin aktif. Bahagia banget bisa merasakan gerakanmu. Kita main-main setiap hari. Biasanya kalau Bapak ke tukang, Ibu cuma nonton tv atau kerja sendirian, tapi semenjak ada kamu, Ibu nggak kesepian lagi, kamu nemenin Ibu setiap detik.

Kita ngobrol, saling berbalas tepukan, kamu nendang-nendang Ibu, kita nyanyi-nyanyi, smule-an meskipun suara Ibu kayak kaleng rombeng, kita dengerin musik, dengerin murattal, kamu yang suka protes kalau Ibu lupa mindahin lagu, kalau lagi dengerin sholawat terus Ibu lupa eh tau-tau udah masuk lagu lain yang nge-beat, kamu jeduk-jeduk dah protes. Hehehe. Ibu juga sering nimang kamu pakai lagu andalan Ibu dan kamu pasti langsung ngerespon. Pokoknya kamu bikin hari-hari Ibu lebih berwarna.

“Adek sayang, anaknya Ibu. Adek sayang, anaknya Bapak. Adek sayang, tumbuh kembanglah, jadi anak sehat jadi anak kuat”. Kira-kira gitu ya Nak liriknya.

Bulan ke-5, gerakanmu semakin kuat, tendangan-tendanganmu makin nyata sampai getarannya jelas terlihat. Minggu-minggu pertama bulan ke-5 Ibu semakin menikmati kehamilan ini. Tapi lama-lama gerakanmu agak aneh. Yang paling Ibu inget, saat itu hari senin sore, seperti biasa Ibu ngirim paket ke J*E, saat itu Ibu ngerasa tendanganmu aneh. Beberapa kali kamu nendang dengan kuat, tapi Ibu kira kamu seneng diajak jalan-jalan. Dan hari-hari berikutnya gerakanmu normal lagi.

USG Ana

Keesokan harinya, Selasa 1 Agustus 2017, Ibu kontrol rutin ke puskesmas. Semua normal dan sehat, detak jantungmu masih normal, sama sekali nggak ada tanda gawat janin. Lalu, Bu Bidan nyuruh Ibu balik Selasa depan buat cek laboratorium. Saat itu Ibu ngerasa semua baik-baik saja, tapi alangkah kagetnya Ibu, detak jantungmu diatas rata-rata, selalu lebih dari 170 kali / menit. 3 orang bidan yang menangani Ibu panik  semua. Duhdek, muka bidan-bidan yang panik itu bikin Ibu tegang tingkat monas, sampai-sampai jantung Ibu berdegup kencang banget. Dicek berulang-ulang tetap sama. Ibu disuruh sarapan dan cek lab, lalu diperiksa lagi, tapi tetap saja belum stabil. Sempat normal tapi naik lagi. Ibu dirujuk buat USG. Malamnya Ibu langsung USG tapi kondisimu masih sehat-sehat saja, Ibu pun masih merasakan gerakanmu. Hasil lab urin Ibu memang agak jelek, kemungkinan ada infeksi saluran kencing, tapi pas dokter nanya ada demam atau nggak, Ibu jawab nggak, karena memang Ibu nggak pernah demam selama hamil. Jujur sebenarnya dari situ feeling Ibu mulai nggak enak, ah tapi Ibu tetap positif thinking, dipikiran Ibu, yang penting kamu masih aktif gerak.

***

Senin, 14 Agustus 2017, kamu mulai aneh, biasanya kalau malem aktif banget, habis makan juga aktif, tapi malam itu Ibu nggak merasakan gerakanmu, toh kalaupun ada sangat lemah sekali, sampai-sampai Ibu bingung, itu kamu atau kedutan perut biasa. Besoknya masih sama, seharian Ibu nggak merasakan gerakanmu, rasa khawatir mulai melanda, Ibu minta tolong Bapak buat nganter ke bidan. Di Bidan detakmu susah dicari, lama-lama terdengar detakmu, Ibu plong, lega banget, tapi gerakanmu masih lemah.

Rabu, segala macam cara merangsang gerakan janin yang ada di internet Ibu coba, tapi hasilnya nihil. Disitu Ibu mulai curiga kalau kamu memang udah nggak ada.

Kamis siang, 17 Agustus 2017, perut Ibu agak sakit, berulang kali Ibu coba merangsang kamu tapi nggak ada respon. Sampai ada suara pesawat keras banget aja kamu diem, padahal biasanya ada bunyi keras dikit kamu bangun. Keanehan lainnya,perut Ibu terasa keras. Wes pokokmen saat  itu Ibu pasrah, perasaan Ibu udah jelek, Ibu nangis dan Bapak nganter Ibu ke Rumah Sakit.

Bidan mulai meriksa Ibu, detakmu masih susah dicari, begitu ketemu, detakmu lemah sekali. Ada 3 bidan yang menangani Ibu, Bidan Detia, Bidan Kartika, dan Bidan Atika. Semuanya ramah, khususnya Bidan Atika yang paling bisa ngelegani Ibu. Dia jadi bidan favorit Ibu di Rumah Sakit tersebut. Dicek berkali-kali, bidan nelpon dokter, Ibu disuruh pulang dan kontrol Jumat sore karena saat itu dokter lIbur.

Jreng….. Jumat sore jadi hari menegangkan. Deg…deg…deg, seharian Ibu berdoa biar ada keajaiban. Siapa tahu kamu cuma tertidur, ya paling nggak detakmu masih ada. Awalnya Om dokter masih santai-santai aja lho nak, beliau cuma nanya “Baru 5 bulan ya, Bu? Biasanya 5 bulan masih klemer-klemer gerakannya”. Ibu agak lega sih denger omongan dokter. Begitu USG, wajah Om dokter langsung berubah drastis.

“Beneran nggak ada demam atau flek, Bu?”

“Nggak, Dok, saya merasa sehat-sehat saja. Dari awal hamil saya nggak pernah flek”

“Ketubannya kok dikit banget ya, ada kerasa rembes gitu nggak?”

“Nggak”

“Masa? Biasanya kerasa kayak kencing gitu”, Om dokter mulai goyang-goyangin alat USG. Ibu cuma diem harap-harap cemas.

“Ini udah nggak ada, Bu. Hmm… Ini udah lama, hampir seminggu, tulangnya sudah tumpang tindih, istilah kedokterannya spalding”. Dokter masih ngutak atik alat USG. “ kasusnya kok rumit-rumit ya. Hmmm.. bener udah nggak ada ini. Kepalanya sudah mengkeret”

Deg!

Waktu berasa berhenti sejenak, jantung Ibu berdegup kencang, mbak-mbak perawat memandang Ibu dengan wajah memelas. Ibu berusaha untuk tenang menahan air mata. Sok kuat lebih tepatnya. Ibu masih heran, seminggu?? Terus yang Ibu rasain selama seminggu ini tuh apa? Masa bukan kamu. Huft. Ibu berjalan ke meja dokter dengan lesu, rasanya pengen cepet-cepet pulang dan berharap ini cuma mimpi. Lebaaay… Lemes Bray!!!

“Saya bicara sama Bapaknya atau dua-duanya?”, Tanya dokter dengan hati-hati.

“Dua-duanya aja, Dok”, jawab Ibu sok kuat.

“Hmmm.. Jadi, kasus kayak gini udah banyak ya, bukan cuma Ibu sendiri. Istilahnya IUFD, kematian janin dalam kandungan di usia lebih dari 20 minggu. Anaknya harus dikeluarkan secara normal”

“Penyebabnya apa, Dok?”

“Belum tau, nanti kalau anaknya sudah dikeluarkan terus cek lab baru bisa tau penyebabnya apa”

“Terus dikeluarinnya kapan?”

“Ibu siapnya kapan? Tapi ya lebih cepat lebih baik. Mau besok atau lusa?”

Hening

“Besok aja, Dok”, ucap Ibu mantap.

“Oke, ini saya kasih obat, jam 8 diminum yang setengah tablet, sejam berikutnya minum yang 1 tablet. Besok Ibu kesini pagi-pagi sebelum jam 6 ya”

“Dok, ini nanti keluarnya sendiri kayak lahiran biasa?”

“Iya Bu, seperti lahiran biasa, setelah itu dikuret untuk membersihkan sisa-sisa jaringannya”.

“Oke dok. Makasih”

Keluar dari ruangan masih bisa jalan dengan tegap sok kuat, sebenarnya Ibu udah nggak bisa nahan air mata. Ibu nunggu di luar, biar Bapak yang nebus obat.

Semalaman tidur Ibu nggak nyenyak. Setelah kabar menyakitkan itu, Bapak ngajak Ibu tidur di rumah si Mbah biar Ibu ada temennya. Ibu baru bisa tidur jam 1, itupun kebangun-bangun. Diatas jam 3 Ibu baru bisa tidur lelap sampai jam 5. Ya lumayanlah 2 jam. Bangun, sholat, setengah 6 lebih langsung ke rumah sakit. Apapun yang terjadi, Ibu siap demi kamu.

*Bersambung ke >> Catatan Perjalanan Anasera (Bagian 2)

 

Leave a Reply