Catatan Perjalanan Anasera (Bagian 2)

Setelah ngurus ini itu, jam 6 Ibu masuk ruang bersalin dan dicek pembukaannya tapi belum ada pembukaan. Lalu, bidan masukkin obat dari bawah buat merangsang pembukaan dan infus induksi mulai dipasang. Jam 8 Ibu dipindah ke kamar perawatan. Lumayanlah Ibu bisa istirahat dan sarapan.

Jam 10 Ibu disuruh ke ruang bersalin lagi, begitu masuk, Ibu kedinginan sampai menggigil, entah kenapa. Nggak lama ada bidan ngecek pembukaan (ini bidan shift pagi), sebut aja bidan galak. Muka si bidan ini sengak banget, keliatan kalau nyebahi. Dan ternyata benar, cara dia ngecek pembukaan kasar banget, posisi Ibu waktu itu lagi kedinginan, otomatis otot-otot Ibu tegang karena menggigil. Eh, si bidan ngeceknya kasar sampai Ibu kesakitan. Waktu itu pembukaannya baru seujung, si bidan lapor dokter dan balik lagi buat ngasih obat. Dan tubuh Ibu masih begetar karena kedinginan.

Bidan galak masukkin obat lewat bawah, kasaaarnyaaaaa naudzubillah! Padahal bidan yang pagi tadi nanganin Ibu tuh sabar lho, halus, nggak menyakitkan. Nggak kayak si galak ini.

“Ibu jangan tegang, susah masukkin obatnya!”, si bidan galak misuh sambil natap tajam ke Ibu

“saya kedinginan mbak!” , Ibu balas tatapannya.

“manut toh!”

“woooh tak tapuk juga nih orang!”, ini Cuma dalam hati ya. Hehe.. Hati Ibu panas membara dan lagi-lagi harus sabaaaar.

Si bidan mandang Ibu tajem banget kayak silet, yo Ibu balas lagi tatapannya. Wawanian siah ka aing! (berani-beraninya sama saya).

Pengen rasanya nabok tuh bidan galak! Kalau Ibu nggak inget kamu, udah Ibu marah-marahin tuh bidan. Bisa Ibu pisuh-pisuhi tuh.

“saya itu lagi kedinginan, situ gak liat sampai menggigil gini. Situ ga belajar kalau menggigil gini otomatis otot tegang karena kejang? Ya pasti tuh obat susah lah masuknya. Situ bidan atau si bolang lagi mancing ikan pakai tombak? Main sogrok aja, kasar pula!”. Hahaha, Ibu pengen banget ngeluarin kata-kata itu. Tapi Ibu tahan, Ibu berusaha sabar.

Sekilas iklan, Hambok  jadi bidan tu yang sabar, jangan galak dan kasar. Ibu hamil apalagi siap bersalin tuh kondisi psikis dan fisiknya “kacau”, butuh kelembutan dan ditenangin, bukannya digalakkin. Kalau Ibunya ngeyel ya bidan harus berusaha sabar, masa selama pendidikan nggak diajarin psikologi pasien? Masih pagi juga, masih fresh, baru masuk kerja, aneh aja kalau pagi-pagi udah galak kayak gitu. Ra Mutu! Rrrrrrrr greget rasanya.

Kelar dimasukkin obat, infus induksi ditambah dosisnya secara bertahap.

Selama nunggu pengecekkan berikutnya, bawaannya lapar terus. Ibu malah bersyukur jadi punya persiapan tenaga buat ngeluarin kamu, lha wong makan terus kok. Hehe.

Jam 2 dicek lagi, Alhamdulillah bukan si galak. Ibu udah was-was aja tuh, jam 12-an si galak masih wara wiri ngurus bumil di sebelah Ibu. Bidan shift siang orangnya ramah, ngeceknya juga halus, pelan-pelan, ngayemi. Pokoknya bidan-bidan yang nanganin Ibu semuanya ramah kecuali si galak. Oh, iya, jam 2 itu pembukaan Ibu masih seujung, nggak ada perubahan.

***

Seharian di ruang bersalin itu serem lho! Sebelah Ibu ada orang mau melahirkan, si bumil ini merintih kesakitan sambil istigfar dan dzikir. Tadinya mau sesar karena bayinya sungsang, tapi alhamdulilah Allah berkehendak lain, si bumil dikasih jalan melahirkan normal. Sekitar jam 3, pembukaannya udah lengkap, pas banget dokter baru datang. Seketika ruangan jadi horror. Ruangan penuh sama bidan, mungkin lebih dari 5 orang. Meski dihalangi gorden, tetep aja kegaduhan yang mencekam itu terdengar jelas.

Suara-suara penyemangat biar si bumil kuat mengejan diselingi candaan tetap terdengar horror bagi Ibu. Apalagi suara “krezzzz”, mungkin dokter lagi menggunting jalan lahir si bumil, beuuuh suer linu banget cyiiiin!

Nggak lama terdengar tangisan bayi, seiring ucapan Alhamdulillah dari orang-orang di ruangan, tangis Ibupun pecah. Ya Allah, nyesek rasanya denger orang lahiran secara live tanpa sensor. Betapa bahagianya si bumil bisa mendengar suara anaknya, ia mungkin sudah lupa sama rintihannya tadi. Sedangkan Ibu harus berbesar hati mengeluarkan kamu tanpa bisa mendengar tangisan kamu. Ibu Bapak saling bertatapan, Bapak yang kuat pun ikut mengeluarkan air mata. Ya Allah, inikah rasanya jadi orangtua? Sekuat-kuatnya kami, kalau sudah urusan anak, hati kami luluh lantak. Kami saling menggenggam. Yak, kami harus kuat!

Jam demi jam berlalu, perut Ibu sesekali mulai kontraksi tapi Ibu masih bisa makan dan ngobrol. Ibu juga selalu ngajak kamu ngobrol dalam hati biar kamu cepat keluar. Ibu nggak tega kalau kamu kelamaan di dalam. Sekitar jam 8 Ibu dipindah ke ruang perawatan karena botol infuse kedua sudah habis dan pembukaan masih belum nambah, jadi Ibu disuruh istirahat. Untung Ibu disuruh pindah, pas ada orang mau lahiran juga. Nggak kebayang dah kalau harus mendengarkan orang lahiran secara live lagi.

Jam 10-an kontraksi mulai sering, Ibu juga bolak-balik kamar mandi, beser. Waktu itu udah mulai keluar darah sedikit. Bapak manggil bidan, dan waktu dicek ternyata pembukaan masih sama. Ibu disuruh pakai pembalut dan celana dalam. Ibu pun tidur sejenak, lumayanlah Ibu bisa tidur 1 jam. Jam 11 kebangun. Kontraksi semakin menjadi-jadi. Setiap mau kencing rasanya perut tambah sakit. Dari situ Ibu udah nggak bisa tidur. Ibu merintih, nangis, istigfar, dzikir, sesekali bangunin Bapak. Ah rasanya gak kuat, sakiiiit banget.

Menjelang setengah 1 malam, perasaan udah nggak karuan. Duduk salah, tidur salah, mau kencing aja sampai bungkuk-bungkuk. Habis kencing, Ibu benar-benar nggak tahan, seperti ada yang mau keluar dari jalan lahir Ibu, Ibu pengen banget mengejan. Bapak buru-buru manggil bidan. Seharusnya Ibu nggak boleh ngejan dulu, tapi Ibu nggak kuat nahan, Ibu pun mengejan.

Pertama, seperti ada yang keluar entah apa, mungkin darah. Kedua, Bruk! Seperti ada gumpalan besar keluar. Bidan datang, dicek sekilas dikira ketuban yang keluar. Ibu buru-buru dibawa ke ruang bersalin pakai kursi roda. Begitu dIbuka ternyata gumpalan itu ketuban lengkap sama kamu dan ari-ari di dalamnya.

“Pak, ini anaknya udah sempurna, Bapak mau lihat?”, Tanya bidan dengan ramah dan hati-hati. Bapak mengiyakan.

Dengan hati-hati, Mbak Bidan menyobek ketuban, mengeluarkan cairannya yang sudah berubah jadi merah kecoklatan dan memperlihatkan tubuh mungilmu. Waktu itu ada 2 bidan dan 1 bidan magang. Semuanya ramah.

“Hidung adeknya mancung”, kata salah satu bidan. Sementara bidan lainnya secara perlahan membalikkan tubuhmu.

“Adeknya cewek, Pak”. Ibu agak geli, Mbak Bidan ini hati-hati banget soalnya tubuhmu masih mungil banget. Mbak bidan yang 1 malah nggak berani megang karena masih terlalu kecil.

Ya Allah Nak, Alhamdulillah kamu idaman Ibu (meski cewek cowok sama aja yang penting sehat), Kai sama Nenek juga pengen banget punya cucu perempuan, kakak kakak sepupu kamu kan cowook semua. Kamu pelengkap pandawa lima nak. Kalau kata Tante Ocan, cucu Kai Atok udah lengkap, Pandawa Lima dan Srikandi, tapi Srikandinya udah pergi duluan ke surga. Allah Maha Baik, Ia mengabulkan keinginan Ibu, dari keinginan hamil sampai punya anak perempuan, meski jalannya diluar dugaan. Ia sudah memberikan Ibu kesempatan merasakan hamil dan menjadi orangtua. Ia titipkan ruh malaikat kecil di rahim Ibu, lalu ia angkat lagi ruh itu ke surga.

Ibu yang tadinya nggak berani liat, akhirnya melihat kamu. Meski Ibu cuma berani lihat mukamu sekilas dan Ibu sulit sekali mengingatnya sampai sekarang, tapi yang Ibu tau, kamu itu cantik!

Sebenarnya Ibu pengen banget nimang kamu untuk yang terakhir kali, tapi saat itu Ibu sudah blank, Nak. Rasanya Ibu nggak sanggup bersuara. Ibu cuma bisa mandangin kamu yang udah “tertidur” dengan lelapnya. Kamu tahu Nak?  Awalnya Ibu berniat nggak ngeliat kamu karena Ibu pikir bentukmu belum sempurna dan Ibu merasa nggak sanggup menghadapinya, tapi Masya Allah, kamu udah sempurna nak. Hidungmu mancung, badanmu yang mungil dengan jari-jari tangan dan kaki terbentuk sempurna, rambutmu “kethel” meski masih berupa rambu halus. Beratmu sama ari-ari waktu itu sekitar setengah kilogram. Panjangmu kira-kira 1,5 jengkal orang dewasa. Aaaah, Ibu benar-benar mengagumi kecantikanmu. Betapa Maha Besar Allah yang sudah menciptakan manusia dengan kesempurnaan fisiknya. Kamu memang lebih pantas jadi bidadari surga daripada kembang desa. Dan Ibu bersyukur banget sama Allah karena sudah memberikan kemudahan dalam melahirkan kamu. Lahir spontan sendirian di kamar perawatan. Hahaha. Terimakasih Nak, kamu udah bantu Ibu, meski di rahim hanya jasadmu, tapi Ibu yakin dari surga sana kamu pun membantu Ibu, mendengar obrolan hati Ibu sama kamu, memberi kekuatan buat Ibu sehingga nggak perlu waktu berhari-hari buat mengeluarkan kamu.

Jam 6 pagi, Mbah Uti datang jemput kamu. Bapak ikut pulang. Di rumah, kamu disucikan, disholati, dan dimakamkan. Bapak memberimu nama “Anasera Rezfani Putri”, artinya Anak perempuan hadiah dari Tuhan yang ada di surga. Namanya secantik wajahmu, kan. Si Bapak memang tak terduga bisa dapat nama macam itu. Mungkin efek sering nyari nama buat katalog cincin ya. Hahaha.

makam ana

Jam 8 dokter datang dan Ibu dikuret untuk membersihkan sisa-sisa jaringan. Blas nggak kerasa apa-apa, lha wong dibius kok. Seingat Ibu, waktu disuntikkan obat pertama, plafon berasa goyang-goyang kayak ombak, begitu disuntikkan obat kedua, Ibu nggak ingat apa-apa lagi. Bangun-bangun udah pakai popok dewasa dan jilbab Ibu terlepas. Aaaaaah aku ternodah!!

Dan sorenya Ibu boleh pulang.

Nak, meskipun kamu sudah nggak ada di dunia, tapi Ibu nggak pernah merasa kamu pergi, karena kamu selalu ada di hati Ibu. Saat ini, Ibu masih dalam masa pemulihan, khususnya hati dan pikiran. Dan itu butuh waktu. Manusiawi kalau Ibu masih nangis tiap inget kamu, ditinggal anak itu patah hati terbesar Nak. Bagaimanapun kita pernah satu tubuh, ibu ngegembol kamu kemana-mana, setiap detik kita lalui bersama. Tapi kamu jangan khawatir, Ibu ikhlas dan Ibu yakin Allah punya rencana yang indah untuk keluarga kecil kita.

Bahagia disana ya Nak. Kelak kita pasti bakal berkumpul bersama. Jangan lupa, doakan supaya kamu cepat punya adik lagi, adik yang sehat, normal, sempurna, tanpa ada kekurangan satu apapun yang bisa kami rawat dan besarkan sampai akhir hayat kami. Dan Ibu bakal mengenalkan kamu ke adikmu nanti. Dia harus tau kalau dia punya Mbak yang cantik syalala membahana.

Anasera, I already fell in love with you since the first time I saw you although only in black and white.

And you’re my late first child who never born to live, instead made her way straight to Jannah, Alhamdulillah!

Love you, Anasera Rezfani Putri
Ketjup batsah. Muah muah muah :*

 

Untitled

Ketika kau hadir di dalam rahimku

Betapa bahagianya aku

Tak lupa kuucap syukur pada-Nya

Yang telah memberiku anugerah terindah

Ketika kumulai rasakan gerakmu

Hariku menjadi berwarna

Setiap hari ku bermain denganmu

Bercanda tawa riang gembira

Tapi takdir berkata lain

Kau pergi untuk selamanya

Hancur rasanya hati ini

Kehilanganmu sebelum kau melihat dunia

Belum sempat ku dengar tangisanmu

Belum sempat ku menggendongmu

Ku hanya bisa menatap tubuh mungilmu

Yang sudah tak bernyawa

Bahagialah anakku

Jadilah bidadari surga

Tunggulah Bapak dan Ibumu

Sampai kelak kita kan berkumpul bersama