Kisah di Balik Khataman PonPes Salaf Tegalrejo Magelang 2014

Tahun 2014 Asrama Perguruan Islam Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Magelang kembali mengadakan Hafiah Attasyakur Lil Ikhtitam ke-71 atau biasa disebut “Khataman”. Seperti tahun-tahun sebelumnya, serangkaian kegiatan khas yang disebut Pawiyatan Budaya Adat pun turut memeriahkan acara tersebut. Rangkaian acara seni dan rohani ini berlangsung dari tanggal 2 – 10 Juni 2014 lalu.tegalrejo magelang
Acara tahun ini bagi saya agak berbeda karena saya yang biasanya ‘ngungsi’ di dapur, kini terjun ke lapangan. Rumah saya, Mbah, dan Bu Lik memang dipakai penginapan keluarga santri dari Parakan. Makanya setiap puncak acara kami ngungsi di dapur karena rumah penuh sesak. Tetapi tahun ini kami mencoba peruntungan dengan menggelar lapak. Saya dan ibu buka lapak jajanan dan minuman, sedangkan teman-teman membuka lapak pakaian anak. Ini nih lapak karya mas-mas Parakan G34 A dan B. hahaha. (lapak hari pertama, 8 Juni di pagi hari).

kinariku shop

Sore menjelang malam mulai banyak warga Magelang sekitarnya yang berdatangan karena malam harinya ada konser Setia Band. “Mendadak Bakul Kopi” adalah judul kegiatan saya malam itu. Supir-supir yang menunggu penumpangnya nonton konser serta orang-orang yang habis ziarah menjadi pelanggan dadakan. Lapak pun disulap menjadi “café dadakan”.

H-1 (9 Juni), sore hari jalanan semakin padat karena ada arak-arakan kesenian dari berbagai daerah. Titik awal arak-arakan sekaligus tempat latihan persis di samping rumah saya. Kuda lumping, drum band, pasukan kraton, mobil hias, dayakan, dan berbagai kesenian lain berpartisipasi di acara ini.

pasukan keraton

drum band

mobil hias

Arak-arakan berlangsung sampai pukul 19.30. Meski arak-arakan selesai, tetapi masih ada pentas seni yang juga terletak di samping rumah. Kesenian Jathilan lah bintangnya.

 

penari bali

kuda lumping

Disela-sela keriuhan pentas seni, para santri Parakan mulai menggila. Ternyata sebagian santri itu sama aja kayak orang biasa *yaiyalah*. Ibarat satu kelas, pasti ada “geng rewo-rewo”. Ulah geng rewo-rewo memang bikin geli. Sehabis acara arak-arakan, mereka asyik joget dan karokean. Awal-awal sih lagunya masih nggenah, lama-lama dangdut koplo dengan lirik nyeleneh juga dinyanyikan sampai tengah malam. Saya dan teman-teman hanya bisa cekikikan mendengarkan suara fals mereka dari kamar.

“Inginku Sms-an wedi karo bapakmu. Pengen telpon-telponan wedi karo mbokmu. Pengen ku ngomong sayang wedi karo bojomu”.

Suara eksotik dan lirik yang sengaja diubah itu berhasil membuat kami tidak bisa tidur. Hahaha. Apalagi dengan pedenya mereka ngajak pak polisi joget “Pak polisi boleh mampir sini”. Duh Dek!. Dan entah karena apa, lagu “Ngidam Pentol” yang liriknya benar-benar nyeleneh menjadi penutup karaoke mereka. Entah karena memang sudah larut malam atau karena dimarahin senior. Hahahaha.

Selain “geng rewo-rewo” tentu ada sekelompok orang yang lebih suka nonton tv sambil ngopi di rumah saya. Mereka adalah beberapa santri yang sudah terlihat dewasa dan cukup matang *yakali*.

Hari H (10 Juni) keluarga santri mulai berdatangan. Semakin sore keramaian mulai tak terkendali alias mbludak banget, udah kayak nikahan aje. Alhamdulillah hal ini berdampak pada penjualan pakaian, minuman dingin, kopi, popmie, dan jajanan yang laris manis. Saya dan teman-teman sibuk melayani tamu yang belanja. Ada kepuasan tersendiri, bukan urusan bakulannya tapi seru aja bisa turut berpartisipasi. Lelahpun tak terasa.

lapak kinariku

suasana keramaian

Malam harinya baru dah saya mulai K.O. Jam 8 malam mulai nyerah, alhasil ibu sama bapak yang nerusin jualan sedangkan saya ngorok di dapur sambil nunggu jualan selesai, lalu sekitar jam 11 baru masuk kamar dengan melewati ruangan yang penuh sesak dan harus hati-hati agar tidak ada yang terinjak karena saking banyaknya tamu.

Yah, Sekilas acara seperti ini terlihat merepotkan (apalagi bagi yang tidak terbiasa mengalaminya), tapi kalau kita enjoy dan ikhlas justru seru. Apalagi kalau memanfaatkan peluang mencari rezeki, Insya Allah acara ini jadi berkah untuk para bakul. Jadi sedikit nyesel kenapa ga dari dulu buka lapak daripada bengong di dapur. Kan lumayan bisa cuci mata nyari yang bening-bening , interaksi sama orang-orang, dan menggila bersama teman-teman. Hahahaha.

Semoga tahun depan bisa buka lapak lagi bersama teman-teman dan acaranya semakin asyik. Thanks Kinariku’s crew *ketjup batsah*. Dan makasih buat mas-mas santri Parakan yang udah bikinin lapak buat cewek-cewek kece. *kalo ini ga pake ketjup, bukan mahrom*Hihihihi.

12 Comments

  • Achmad Mutohar June 13, 2014 Reply

    Ngertiyo aku mampir nang cafemu mbak.. :))

    • amalia June 13, 2014 Reply

      Haiyo kudune mampir koh.hahaha

  • Achmad Mutohar June 14, 2014 Reply

    Eh, mbak aku mau melemparkan tongkat estafet tentang The Liebster Award ke kamu, jika berkenan monggo diintip yaa
    http://kokohahmad.blogspot.com/2014/06/liebster-award.html

    • amalia June 15, 2014 Reply

      Okesip koh, nanti tak intip 😉

  • sang nanang June 17, 2014 Reply

    wah, Tegalrejo memang selalu gegap gempita saat-saat gelaran khataman…..

    • amalia June 18, 2014 Reply

      Hahaha iya mas, gegap gempita tiap tahun

  • niki tomi June 28, 2014 Reply

    tegalrejo encen rame nek kataman. tp aku durung tau mrono e.

    • amalia July 6, 2014 Reply

      Taun depan dolan garjo mas tomi 😀

  • umar July 7, 2014 Reply

    la kui kok jatilan.e deso ku to. .
    wunut w0n0tirto. .parakan. .

    • amalia July 7, 2014 Reply

      Oiyakah?? Wah wah mase dari parakan toh

  • nindy July 11, 2014 Reply

    eh aku kok ikut”n sih, , , jelex tuh pose’y

    • amalia July 12, 2014 Reply

      Mbaknya kefoto? Yg mana ya? Hihi

Leave a Reply