Sugeng Rawuh, Membaca Magelang 2!

Buku membaca Magelang 2

“Magelang adalah kawan kita. Kalau sempat, ingatlah saat-saat ketika bersamanya”.

 

Tanggal 12 April 2014 lalu pukul 3 sore, sebuah mall di Magelang gegap gempita menyambut lahirnya saksi bisu harapan Kota Sejuta Bunga. Bukan Joko Tarub apalagi Purba Putra *itu sih nama bis!*, tetapi sesuatu yang lebih wow dan spektakuler yang kelak akan mengenalkan Magelang pada dunia. Dengan dibidani komunitas menulis di Magelang, maka lahirlah sesuatu yang mempunyai 41 ‘orangtua’ sekaligus adik dari kakaknya terdahulu, yaitu buku Membaca Magelang #2.

Jika Membaca Magelang 1 berkisah tentang kenangan-kenangan indah di Magelang, Membaca Magelang 2 temanya lebih spesifik, yaitu tentang kenangan masa sekolah atau kuliah di Kota Harapan. Sejuta mimpi, sejuta cinta, sejuta kenangan, tawa, haru, tangis yang tertuang di buku tersebut membuat siapapun yang pernah bernafas di Magelang ingin segera pulang ke Magelang.

Awal membuka buku ini, kita akan disajikan kisah yang sangat menarik. Saya pribadi merasa berada di Magelang tempo dulu. Kisah seorang peranakan Indo-Belanda yang ditulis ulang oleh Bagus Priyana berhasil membuat hasrat menjelajahi Magelang berkobar-kobar dan rasanya ingin merasakan kehidupan Magelang di masa lalu sebelum adanya mall. hahaha. Dan gegara ini juga saya jadi pengen banget main-main di atas plengkung, menyusuri sungai, menikmati Magelang dari atas sana. Dan ada satu tempat yang sangat sangat sangat ingin dikunjungi, yaitu karesidenan. Berfoto dan mengambil foto berlatar belakang Gunung Sumbing serta gazebo. Aiiih indahnya. Ada yang mau ngajak? *ngarep*.

Ada lagi kisah yang menggelitik dari Nur Fahmia tentang sahabatnya yang bernama Adrian Hasman. Mereka yang dipanggil dr. Mia dan dr. Hasman di sekolah mengingatkan kita pada “pasangan dokter legendaris Magelang” dengan nama yang sama. Entahlah, mungkin kelak mereka berjodoh, lalu muncullah “Cinta Mia dan Hasman session 2” *sinetroooon kalee*.

Berbagai kisah inspiratif ada di buku ini. Perjuangan demi perjuangan yang mereka lakukan di masa sekolah telah mengantarkan mereka menuju mimpi-mimpinya. Terbukti dengan banyaknya orang sukses yang berkontribusi dalam buku ini. Hal ini sangat membuat saya yang belum menjadi apa-apa terpacu untuk mewujudkan mimpi saya. Pesan yang selalu saya dapatkan dari semua kisah perjuangan dalam meraih sesuatu di buku ini adalah “Usaha keras takkan pernah menghianati”.

Rupanya tempat favorit yang banyak tertuang dalam buku Membaca Magelang Jilid 2 adalah Alun-Alun. Rasanya saya sependapat dengan mereka. Langit senja di Alun-Alun dan suasana ketika Alun-Alun tak begitu ramai ditemani semilir angin di bawah pohon beringin sangatlah menenangkan. Tempat umum yang membuat kita dapat memperhatikan sekitar, melihat berbagai macam manusia, serta merenungkannya dan bersyukur dengan apa yang kita punya. saya sendiri senang berada disana untuk sekedar melepas penat asalkan tak ada dua artis dadakan yang saling berteriak dan berkejaran lalu melempar botol minuman (baca: orang gila).

Buku yang ditulis oleh 41 orang dengan beragam kisah ini adalah penawar rindu Wong Magelang di perantauan. Kisah yang jujur dan polos menjadi daya tarik sendiri untuk bernostalgia mengenang masa lampau, seperti keseruan Sang Nanang ngelaju Magelang-Jogja. Kegigihan Muhammad Hafidz dan kawan-kawannya dalam memperjuangkan organisasi mereka. Kisah mbak Ria Eka yang menanti Edelweiss tumbuh di Alun-Alun. Kisah Mameth Hidayat dengan gadis berlesung pipit. Dan kisah menarik lainnya di buku ini yang hanya ada di buku Membaca Magelang #2.

Oke, tulisan ini bukanlah resensi, hanya mingin-mingini ben penasaran tuku buku iki, khususnya Wong Magelang. Pokoke kalau mau tau keseruan kisah di buku ini, baca saja bukunya. Orang Magelang belum kece kalau belum baca buku Membaca Magelang #1 dan Membaca Magelang #2.

Sekali lagi, “Magelang adalah kawan kita. Kalau sempat, ingatlah saat-saat ketika bersamanya.” Ya, tagline tersebut mengingatkan kita agar tidak lupa pada kota yang pernah menjadi bagian dari hidup kita, yaitu Magelang.

 

– Disela-sela kerinduan akan Magelang.

Bandung, 14 Mei 2014 pukul 09.00 –

 

 

Judul Buku      : Membaca Magelang #2

Tagline              : Magelang adalah kawan kita. Kalau sempat, ingatlah saat-saat ketika bersamanya

Tebal                 : 362 Halaman

Penerbit           : Membaca Magelang

Percetakan       : Lingkar Graphic Yogyakarta

Kontributor     :

Jean Andries Schell De Nijs, Bagus Priyana, Nur Fahmia, Arwandrija Rukma, Viena Paramitha Antaresty, Ary Veryanto, Ardiani Setya, Prabowo Wiratmoko Jati, Endah Nuriningtyas, Abimanyu Rendra Laksana, Lusia Dayu, Arum Bibin, Danu Sang Bintang, Riesmita Kustanti, Andhika John Manggala, Tiara Kharisma Dhaneswari, Buang Warsito, Wahyu Setyaningsih, Muhammad Hafidz, Sang Nananging Jagad, Nugraheni Eri Aryani, Ima Molly hapsari, Fara Nia, Dhamar Dwi Windasmara, Ernis Rahmadani, Ria Eka S. Meyda, Wiwit Wahyu Hidayati, Seta Respati Tjahya Indra, Mameth Hidayat, Inda N. Handayani, Whitny Widyasari, Ika Rachmawati, Rizki Amalia, Nurro Tha, Paulus Agung Pramudyanto, Yohana kezia, Akbar Hari mukti, Bondan Pattinson, Jessica Dima Fifatrianing Margantari, Sayekti Ardiyani, Rosida Hasna Afrilita, Eva S. Wibowo.

4 Comments

  • Achmad M May 14, 2014 Reply

    Wiih keren.. aku share ah.. 🙂

  • Sang Nanang May 15, 2014 Reply

    aku malah durung kebagian bukune je……

    • amalia May 15, 2014 Reply

      ngambil sendiri mas bukunya, sy juga kemarin pas ke magelang ngambil sendiri bukunya. hihihi

  • Nurings August 18, 2014 Reply

    sepertinya…jika session dua…bzz 😀

Leave a Reply