Untitled

Tubuh itu mulai renta. Kulitnya berkerut. Rambutnya berubah putih. Badannya yang dulu berisi, kini terlihat semakin mengecil. Usianya sudah kepala 6. Daya tahan tubuh pun semakin menurun. Wajar saja karena sudah setengah abad lebih mereka melewati kehidupan.

Dibalik ‘gayanya’ yang masih sok kuat, terlihat faktor usia yang tak bisa bohong. Siang hari sibuk sendiri, entah apa yang dikerjakan. Tapi malam hari terlihat jelas rasa lelah yang menerpa diri mereka.

Tertidur pulas di kursi masing-masing tak peduli lagi dengan televisi yang masih heboh menampilkan berita kampanye capres. Kemudian, saya perhatikan wajah mereka satu per satu. Sungguh mereka terlihat semakin tua. Bergetar hati ini.

Seharusnya mereka tak lagi punya beban pikiran yang akhirnya memaksa otak bekerja lebih keras dan mengeluarkan tenaga melebihi batas toleransi tubuh. Tetapi terkadang keadaanlah yang memaksa. Ah, sungguh sesak dada ini mengingat belum ada hal yang bisa diberikan untuk meringankan beban mereka. Usia yang saat ini seharusnya mampu memberikan keringanan, masih saja menjadi beban orang-orang. Maaf.

Tak terasa butiran mutiara hangat membasahi pipi. Semakin sesak dada ini. Semakin sakit rasanya mengingat hal-hal yang membuat mereka kecewa. Saya berjanji, kelak kekecewaan itu berubah menjadi senyuman bangga seraya berkata “Itu Anak Saya”. Tapi untuk saat ini, biarkanlah proses itu berjalan sebagaimana mestinya. Melewati turun naiknya kehidupan. Belajar menikmati asam garam yang telah mereka cicipi duluan.

Bersyukur sebagai seorang bungsu yang diberi kesempatan menemani mereka di rumah. Bersyukur karena banyak sekali pelajaran yang bisa saya dapatkan meski diluar tampak biasa saja. Yah, meski keinginan harus tertahan karenanya, tapi tak mengapa jika itu yang terbaik.

Jika memang saya yang ditakdirkan menemani mereka disini, harapan saya, cukuplah kalian hidup tenang menikmati masa tua dan beribadah. Hiduplah rukun tanpa mementingkan ego masing-masing. Karena itulah yang membuat saya fokus mewujudkan mimpi. Biarkan saya yang meneruskan perjuangan kalian disini, meskipun saat ini belum terlihat hasilnya. Percayalah, dibalik kemanjaan si bungsu, otak ini selalu berputar mencari jalan untuk membahagiakan kalian. Yang saya butuhkan hanya dukungan moral dan tentu saja doa restu atas pilihan hidup saya agar semangat perjuangan tetap berkobar. Doakan anakmu ini, Pak, Bu.

Magelang, 4 Juni 2014
Di atas kasur depan tv
22.34 WIB

Leave a Reply