Yuk Stop Bertanya “Kapan” untuk Hal-Hal Sensitif!

“Kapan wisuda? Kapan Nikah? Kapan Hamil? Kapan Punya Anak? Kapan Nambah Anak Lagi?  Kapan Punya Rumah? Kapan Punya Mobil? Kapaaaan?” Jawabannya “Ah, Kepo amat. Lha, kamu sendiri kapan mati?”

Gegara nggak sengaja buka IG dan nemu salah satu postingan akun gossip tentang artis yang belum hamil, lalu ada satu komentar yang jaharaaaa banget, saya jadi gatel pengen nulis. Disini, saya nulis sebagai manusia yang punya nasib sama dan sebagai manusia yang sedang berusaha belajar tidak menanyakan “kapan” untuk hal-hal sensitif.

Pertanyaan “kapan” itu kadang bisa jadi sensitif  lho. Orang yang ditanya “kapan” tuh bisa tertekan. Jangankan untuk hal supersensitif kayak nikah dan hamil, hal simple aja nih, kalau jualan ditanya “kapan cincin kawin saya selesai? minggu depan mau dipakai” , nah kalau saat itu pengrajin sedang libur atau ada kendala produksi, bisa stress lho. Padahal itu sesuatu yang jelas bisa diprediksi kapan selesainya. Apalagi untuk sesuatu yang jadi hak penuh Sang Pencipta. Dan mirisnya, wanita yang selalu dinyinyirin dan disudutkan.

“Seandainya ada hadis dan fatwa MUI perkara ujaran kebencian akan masuk neraka dan auto-murtad dari islam, pasti orang akan berkata yang baik-baik saja.” – noveraldo –

Oke, dulu saya juga sering iseng nanya “kapan nikah?” ke teman-teman yang belum nikah, tapi sekarang mulai belajar untuk menahan hal itu. Karena seiring bertambahnya usia, bercandaan kayak gitu bukan hal lucu lagi. Maapin aku yak teman-temaaaan!

Dua Pertanyaan “Kapan” yang Super Sensitif

“Kapan nikah?” dan “kapan hamil / punya anak?” menurut saya adalah pertanyaan yang sangat sensitif dan nggak jarang menyinggung perasaan orang lain. Jadi saya bakal sedikit ngebahas hal itu.

Batas Waktu Menikah ala Orang Indonesia

Entah kenapa di Indonesia, wanita berumur lebih dari 25 tahun, belum menikah, kemudian dicap perawan tua ora payu dan jadi bahan gunjingan tetangga bermulut usil. Duh, please deh, umur-umur segitu masanya meniti puncak karir lho, mungkin sebagian dari mereka fokus dengan karirnya. Dan yang pasti belum takdirnya ia menikah. Percaya deh, apa yang terjadi di dalam hidup kita tuh udah tertulis jauuuuuuuuh sebelum kita ada. Iya, kita percaya, tapi apa daya, mulut kadang nggak bisa direm.

Orang yang belum nikah, bukan berarti nggak laku (dikata dagangan kali ah pake acara laku segala). Bisa jadi memang belum siap menikah, pernah sakit hati yang teramat sangat sehingga menunda (atau menolak) menikah, atau ada yang udah pengen banget nikah tapi belum dipertemukan dengan jodohnya.

Tahu nggak, tanpa kita tanya “kapan nikah” aja, ketika mereka lihat kita berfoto sama pasangan, nggak sengaja ngobrolin pasangan kita di depannya, ngeliat satu per satu temannya duduk di pelaminan, ngobrolin hal-hal manis pernikahan, itu semua bisa bikin mereka tertekan, apalagi jika sudah lewat “batas umur ala orang Indonesia”. Kadang di depan seperti baik-baik saja, bisa hahahihi, tapi hati orang siapa yang tahu. Siapa sih yang nggak mau nikah? Semua orang pasti pengen kan.

Kuatkan Mentalmu! Masih Ada Kelanjutannya Lho Setelah Pertanyaan “Kapan Nikah?”

Nah, Setelah menikah yang bakal muncul adalah pertanyaan “Kapan hamil?” “Udah hamil belum?”. Baru 1 bulan nikah, kemudian ditanya “Udah isi? Kok belum?”. Ada juga setelah 1 bulan menikah, Allah memberikan amanah hamil padanya, lalu ada pertanyaan “lha si anu hamil?? cepet amat, belum juga sebulan. Jangan-jangaaaaan”. Naaah, iki lho dek, serba salah yee.

Ada yang 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bertahun-tahun menikah belum dikaruniai momongan, kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan menyakitkan hati.

“Kok gak hamil-hamil? Seneng buatnya doang ya?” Jleb! Ini pertanyaan (atau bercandaan) terbodoh yang pernah saya temui langsung dari seorang dokter umum  di daerah saya. Yap, mungkin bercanda tapi sayangnya di saat saya baru saja kehilangan anak. Tapi okelah, si dokter nggak tau apa yang bikin sensitif.

Atau sang aktris yang dibilang mandul gara-gara belum hamil. Duhdek..  gampang amat yak nge-judge mandul. Masa iya sekali tetes harus langsung cespleng kayak iklan obat masuk angin. Kan belum tentu. Bisa iya, bisa nggak, tergantung takdir.

Ada juga “cepetan hamil, keburu tua”. Ah, andai punya anak semudah beli krupuk blek (krupuk kaleng), pasti dunia ini penuh sesak saking banyaknya manusia-manusia baru lahir.

Nggak gampang lho berperan sebagai wanita yang belum dikaruniai buah hati lalu ditanya ini itu. Nggak Cuma pertanyaan sih sebenarnya, lha kalau nengok orang lahiran aja bisa mbrebes mili (baca : mewek Bombay). Saya sendiri dobel nyut-nyutnya. Pertama, inget anak sendiri. Kedua, karena sayapun rindu punya dedek-dedek emesh kayak mereka. Lihat postingan orang tertawa bahagia bersama anaknya juga bikin nyesek lho. Apalagi denger orang yang baru nikah, terus “pamer” tespek positif. Duuuuuh pengen mimik betadine rasanya. Tapi balik lagi, kita sendirilah yang harus mengatur kesedihan itu. Disitulah mental kita diuji agar kelak ketika punya anak, mental kita sudah siap untuk menjadi orangtua dengan segala tugasnya demi mendidik anak menjadi anak sholeh/sholehah.

Percaya nggak, kalau rejeki, jodoh, anak, hidup, mati itu sepenuhnya hak Allah? Kalau percaya, kenapa masih banyak orang nyinyir? Apa percayanya hanya di mulut doang ya?

Dan jika anak adalah satu-satunya takaran keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, sampai-sampai orang yang “terlambat” punya anak dinyinyirin dan disudutkan, lalu kenapa banyak orang yang sudah punya anak lalu mereka bercerai?

Banyak pasutri yang sudah berikhtiar kesana kemari demi hadirnya buah hati tapi belum berhasil. Mereka yang sudah bertahun-tahun mungkin udah kebal sama nyinyiran orang.  Lha gimana lagi? Mau usaha sampai jengking-jengking kalau Allah belum berkata “iya” ya belum berhasil. Anak itu bukan netas dari telur kinderjoy, gaes! Allah Maha Tahu kapan waktu terbaik pasutri diberi hadiah spesial itu. Dan yang pasti pasutri tersebut baik-baik saja, rumah tangganya harmonis, tetap bahagia ikhtiar bersama, dan tetap romantis.

Pertanyaan “kapan punya anak?” pun bisa menyakitkan jika ditanyakan pada wanita yang pernah mengalami keguguran dan belum diberi kepercayaan lagi. Nggak gampang lho jawab pertanyaan kayak gitu. Butuh waktu untuk mengatur hati dan pikiran.

Kalau saya sendiri, Alhamdulillah sekarang udah mulai berdamai dengan diri sendiri, tapi kalau lagi PMS, sensitifnya bisa kumat. Kalau sekedar pertanyaan “udah isi lagi?” itu mah biasa aja, saya Cuma jawab “belum, doain aja yak biar cepet isi lagi”, bagi orang-orang yang peka, mereka pasti mendoakan supaya cepat dikasih lagi dan saya sangat mengamini. Atau pertanyaan “Kamu gendutan, isi lagi kah?” Nah ini malah bikin ngakak, soalnya saya memang doyan makan dan perut saya memang bucitreuk alias buncit banget. Hahaha. Hal paling sensitif bagi saya justru kalau pertanyaannya menuntut saya untuk menceritakan ulang kejadian pahit beberapa waktu lalu. Berasa ngubek-ngubek lagi luka masa lalu.

Mereka Butuh Dukungan dan Doa, Bukan Dikasihani apalagi Dinyinyirin!

Gaes, pernikahan dan Kehamilan bukanlah ajang perlombaan. Nggak bisa juga kayak minta lagu dangdut di kondangan-kondangan. “Dek, nyanyi lagu Jaran Goyang dong”, wusss seketika si penyanyi melantunkan lagu jaran goyang beserta goyangannya.

Atau semacam anak kecil yang merengek-rengek minta es krim sampai guling-guling dan akhirnya saat itu juga ortunya luluh dan membelikan es krim.

Nggak….Nggak bisa kayak gitu. Kapan dikabulkannya ya hak preogatif Allah.

Pertanyaan kapan nikah dan kapan hamil itu seperti pertanyaan “kapan mati?”, kita nggak pernah tau jawabannya.

Mungkin Allah belum menakdirkan pernikahan ataupun belum memberi keturunan karena Allah pengen kita lebih mendekatkan diri kepadanya. Allah itu sayang sama kita, Dia nggak bakal ngasih cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Pasti ada hikmah dan sesuatu yang indah di waktu yang tepat nanti. We are special!

Percayalah, setiap orang sudah diberikan takaran kebahagiaan dan kesedihannya masing-masing.

Yuk, selalu support mereka-mereka yang belum dipertemukan jodohnya dan belum dikaruniai anak. Jangan dikasihani apalagi disudutkan lho ya, tapi didoakan yang terbaik!

Semoga yang belum menikah, segera dipertemukan jodohnya dan menikah ya, semoga sehidup sesurga. Bagi yang belum memiliki momongan, semoga Allah segera memberikan anak sholeh sholehah. Bagi yang sudah punya anak, sayangi anak-anak kita, bersyukurlah Allah telah memberikan kepercayaannya untuk kita. Anak itu amanah, tugas sebagai orangtua sangat berat, gimana caranya mendidik anak kita agar menjadi anak sholeh sholehah, bukan malah jadi anak yang menjerumuskan orangtuanya ke neraka (naudzubillah).

Terus semangat berusaha dan berdoa, pejuang momongan!! Allah pasti akan mengabulkan doa kita. Yakin seyakin-yakinnya. Aamiin

Begitulah hidup, kita yang menjalani, orang lain yang kasak kusuk.

Yuk, STOP bertanya “Kapan wisuda? Kapan Nikah? Kapan Hamil? Kapan Punya Anak? Kapan Nambah Anak Lagi? Kapan Punya Rumah? Kapan Punya Mobil? Kapan Punya Istri/Suami Lagi? (bagi yang bercerai) Dan Lain-Lainnya”!!

One Comments

  • fitria July 2, 2018 Reply

    Setuju bgt bebebq…maktratap baca mngkin patah hati yg terlalu dalam brasa nyindir seseorang km 😂

Leave a Reply to fitria Cancel reply